Selasa, 05 April 2011

...Biru ini tertinggal dihati...

Re created
Theres nothing you can hide from me... your eyes reflected all, just like a open window... so, let me in just like summer breeze...

Kau tahu perasaan ini, Biru. Tak ada satu pun yang dapat mengubahnya. sekalipun waktu. Tapi saat ini, tahukah kau? Aku menginginkan kau lebih dari apapun. Banyak hal yang ingin kubicarakan. Detik ini, serasa kau terus membayangi namun tak cukup mengobati, hanya menambah rasa rindu ini. Atau sesungguhnya kau telah bersukutu dengan waktu karena saat ini kurasa semua seperti melambat.

Semua terasa begitu cepat sesaat aku tersadar semua telah berakhir. Namun waktu kembali mengendur, memanjang, seolah telah berabad lama kutanggung rindu ini karena tanpa kusadari aku demikian menginginkan kau ada bersamaku. Seperti dahulu. Seperti saat kita jejaki tepian pantai ini hingga membawa kita jauh bermil-mil. Seperti saat kita urai warna keemasan senja yang menunggu tertelan cakrawala barat. Atau saat kau dan aku berdansa diringi nyanyian ombak malam di makan malam romantis ketika kuserahkan janji setiaku bersama sebuah cincin – aku melamarmu. Saat itu kita sepakat tak ada yang lebih merdu dari pada suara ombak, tak ada yang lebih nyaman dari hembusan angin di musim panas.

Kau sungguh menggilai laut. Kau selalu berfikir kalau kau adalah salah satu utusan neptunus yang tersesat di darat. Itu sebabnya kau menyukai laut, kau menyukai warna biru, kau juga berzodiak aquarius dan aku selalu menganggapnya gurauan konyolmu. Kau pun meminta sebuah rumah kayu kecil tak jauh dari pantai ini sebagai hadiah pernikahan kita. Kau teramat menyukai pantai.

Rumah itu tak sehangat yang dulu. Tanpa mu biru yang mendominasi rumah itu terlihat begitu muram, tak seperti dahulu. Karena bagiku kau lah arwah yang menghidupkan biru itu. Rumah mungil itu sedikit terabaikan olehku. Warna biru dan putih nya telah usang, termakan cuaca dan lembab angin laut. Aku berencana untuk mengecat ulang rumah itu. Mungkin akan kuganti biru yang sedikit lebih ceria karena menurutku biru yang kau pilih terlalu sendu. Kuharap kau tak marah.

Re created

Ada perasaan senang yang terselip saat kaki telanjangku menyentuh butir-butir pasir. Terasa lembut dan seolah aku turut mendengar detak jantung bumi disana, seperti yang kau katakan dulu. Tanpa kusadari perasaan yang dahulu kuanggap kekonyolan telah merasukiku dalam, perasaan biru yang kau tularkan. Mungkin dahulu aku tak terlalu peka dengan semua yang kau rasakan, aku terlalu berambisi memilikimu. Dan kini biru itu telah tinggal dihatiku, Biru.

Mungkin kisah kita terlalu singkat tapi semua teramat berharga untukku. Haruskah aku bersedih atas kepergianmu? Kala kau pergi kau memintaku untuk tak mengubur jasadmu, kau tak ingin terkubur kesepian, maka kau meminta untuk dikremasi dan kemudian abumu dilarung di laut. Karena dengan begitu impianmu berkeliling dunia akan tercapai bersama abumu yang tertelan lumba-lumba, wasiatmu telah terpenuhi.

Kau juga pernah berkata jika suatu saat aku merindukkanmu aku tak perlu repot, cukup pergi kepantai karena kau pasti akan selalu disana. Mungkin itu sedikit menjelaskan wasiatmu yang dipandang aneh oleh awam. Kau tak ingin terkubur dibawah prasati dingin yang menandai jasadmu tertidur disana, akan mengundang rasa sedih saja. Laut biru nan luas lah yang pantas menjadi tempatmu bersemayam. Laut biru yang memeluk dunia, maka dari belahan dunia manapun jika aku merindu -seperti saat ini- aku tinggal bertamasya ke pantai. Bukankah menurutmu ‘bertamasya’ terdengar lebih menyenangkan dari pada ‘berziarah’. Kau tak akan merasa sepi. Akan banyak tawa yang kau nikmati diantara riak ombak di pantai. Demikian juga yang kuharapkan. Suatu saat akanku tunjukan kepadamu bahagianya aku bersama anak-anak kita saat mengunjungimu di pantai ini.

Sambil menunggu senja turun, kususuri kembali bibir pantai, seperti yang selalu kita lakukan. Sungguh aku rindu kau disini, menemani langkahku, menggenggam kembali tangan ini. Sesaat hembusan hangat angin musim panas membelai kulitku. Tak sehangat yang kau katakan, namun cukup membuatku nyaman. Pandangku jauh menatap luasnya biru yang terbentang dihadapanku yang perlahan mulai terlihat menjingga. Sekali lagi, matahari senja memamerkan keindahannya sebelum akhirnya tertelan di cakrawala dan meninggalkan laut yang semakin terlihat misterus.

Diatas pasir putih itu ku rebahkan tubuhku, mencoba mengurai kembali kenangan-kenangan indah bersamamu. Aku semakin tak kuasa menahannya. “Hay,” kusapa kau yang seolah menemukan wujud diantara keemasan senja yang merefleksi di permukaan laut. “aku merindukanmu. Maaf karena sudah lama rasanya aku tak pernah lagi berbicara denganmu.” suara desir pasir yang tertiup angin laut menyapa lembut, diantaranya samar kurasakan suaramu turut membisik.

“Sudahkah kau berkeliling dunia? Bagai mana rasanya menunggangi lumba-lumba? Pasti menyenangkan!” ombak laut mulai merambat naik, kini dia dapat menyentuh kakiku. “Ada yang ingin kusampaikan kepadamu Biru. Saat ini aku sedang dekat dengan seorang wanita berhati emas. Aku mencintainya, Biru. Tak dapat kupungkiri, aku butuh seseorang untukku berbagi”

“Semua karena perasaanku terhadapmu begitu berlebih. Aku tak ingin semakin tenggelam bersama semua kenangan yang pernah kita rajut bersama. Kau tak perlu kawatir, kau selalu punya tempat istimewa dihatiku. Aku hanya ingin kau tahu cinta ku tak berkurang sedikitpun. Aku mencintaimu, maka izinkan aku juga mencintainya. Dia sungguh seorang perempuan berhati emas, kau juga pasti akan menyukainya.”

Biru, mungkin saat ini kau menatapku bahagia. Bertengger diantara gugusan awan yang menjingga dilembayung senja yang kutatap. Senyummu… senyummu masih menjadi penenang untukku. Dan mungkin kini senyummu menjadi bagian dari laut yang siap merobek apapun dengan badainya. Misterimu menyatu bersama magisnya suasana senja di pantai ini. Rindu ini memberat namun begitu lepas, terbawa hangatnya tiupan angin musim panas. Maka biarkan aku menangis, sekali pun kau tak pernah ingin ditangisi. Kali ini saja, biarkan aku terisak manja diatas pantaimu, biarkan airmata ini tersapu ombakmu agar tersampaikan rasa rindu yang teramat ini.

Aku berniat untuk melamarnya. Tolong jangan salah sangka, tak akan ada yang menggantikan tempatmu dihatiku. Kau teristimewa untukku, demikian juga dia. Dia yang telah mencintaiku seperti kau mencintaiku. bukan maksudku menyamakan kalian, namun cintanyalah yang kini nyata tengah berdiri di tebing pintu hati ini. Dan aku tak dapat memungkirinya, jauh didalam hatiku aku juga menginginkan cintanya.

Segala tentangmu seolah mengkristal dalam ingatanku, tak akan ada yang akan dapat mengusiknya bahkan cinta yang kupunya untuknya. Aku hanya ingin menjalani hidup ini dengan semangat baru yang lebih nyata, bukan sekedar kenangan. Maafkan aku.

Biru, aku harap kau merestui jalanku yang masih harus kutepaki ini. Karena bersamanya aku ingin mewujudkan mimpi-mimpi kita yang tertunda. Malam semakin pekat, namun laut terlihat begitu tenang. Permukaannya berubah keperakan, memantulkan cahaya bulan. Ombak yang bergulung beriringan menciumi bibir pantai, menyentuh hangat jari jemari kakiku. Aku tahu, kau merestuiku.

Aku harus segera beranjak. Terimakasih atas kisah luar bisa yang pernah kita rajut bersama. Ingatlah, kau tak akan pernah terganti olehnya atau siapapun.

Dia mungkin sudah menunggu di rumah biru itu. Disana telah kusiapkan sebuah makan malam kecil istimewa untuknya. Malam ini aku akan melamar cintanya. Dan ku ingin kau menjadi saksinya.

Sampaikan salamku untuk neptunus, jika kau bertemu dengannya disana...

Seorang wanita bergaun putih berdiri diujung perkarangan rumah biru itu. Rambut dan pita digaunnya melambai-lambai tertiup angin pantai. Menunggu pintu itu terbuka untuknya. Di wajahnya terlihat cerah, secerah malam itu. Ya, dia jatuh cinta.

[BDG.032011]

...cukup sampai disini...


http://pakistaniat.com/2008/05/08/pakistan-women-violence/
Semua harus berakhir disini. Sudah cukup, sabarku kian mengering. Tak ada lagi yang boleh melukaiku, tidak dia, tidak siapapun. 

Kupandangi wajahku dicermin yang hari kehari semakin terlihat menyedihkan. Wajah yang bukan hanya kehilangan keceriaannya tapi juga kepercayaan akan mimpi-mimpinya. Wajah yang penuh luka memar karena kepengecutannya. Pengecut karena selalu melampiaskan semua kegagalannya kepada tubuhku.

Selalu seperti ini. Selalu berakhir dengan luka yang semakin membuatku jengah. Sungguh tak pernah kusangka semua akan menjadi seperti ini. Harapan dan mimpi yang pernah kutitip bersamanya seolah menguap, menghempasku ke jalan yang semakin tiada pasti untuk terus kutempuh. Rumah tangga ini hanya satu kesalahan. Harapan yang kuharap berbuah bahagia ternyata kecewa. Dan kini hanya sesal yang tersisa.

Kudapati bayangku dicermin. Terlihat menyedihkan. kususuri luka-luka diwajahku. Tak pernah kubayangkan akan separah ini. Jauh dari semua, hatiku lebih terluka. Laki-laki yang kucinta dan mengaku mencintaiku tega melakukan semua ini. Dimana semua janji-janji yang dahulu pernah ia ucap untukku?

Terlalu banyak yang kupertaruhkan untuk hubungan ini. Mungkin dahulu yakinku dapat menguatkan tapi kini semakin tak dapat lagi kutahan, kau tak lebih dari seorang pecundang, pengecut. Bayangkan betapa terlukanya aku saat laki-laki yang kucinta mencekikku,  menyeretku saat tubuh ini tak terbungkus sehelai benangpun. Atau tahukah betapa terlukanya aku saat laki-laki yang kuharap dapat melindungi diriku justru dengan ringan melayangkan kepal tinjunya kewajahku. Bayangkan seberapa mengerikannya malam-malamku saat ia mulai mendekapku dan mencumbui tubuh yang habis babakbelur, dikala air mata masih mengendap di pelupuk. Tak ada lagi cinta disana, yang tersisa hanya rasa takut.

Sekarang bukan hanya fisikku yang ia lukai. Pecundang itu bermain cinta dibelakangku. Lebih menyakitkannya lagi, mengapa harus sahabatku sendiri. Aku tertipu sekali lagi. Mereka tak lebih dari sepasang penghianat busuk. Tak ada lagi yang dapat kupertahankan disini, tidak juga rumah tangga ini. 

Tak ada yang dapat kulakukan selain menangisi sesal. Peraduan pun tak menyisakan lelap, rasa takut terus menghantui hingga kedalam mimpi. Semua kehangatan yang pernah terjadi mengusang, kehilangan gairahnya. Sungguh yang kulakukan hanya berusaha untuk bahagia, tak lebih. Namun suratankah semua ini harus terjadi? Kesempatan dan percaya yang kuberi dibalas dengan kecewa dan luka. Aku hanya manusia, semua yang ada padaku terbatas adanya, demikian sabar ini. Aku letih berharap. Aku tak mampu lagi menahan rasa sakit ini, tak mampu lagi menerima semua perlakuan kasarmu.

Harapan yang pernah menjadi tempatku berpegang agar tetap waras kini seolah menjadi kesia-siaan. Dia menghancurkannya bekeping-keping dan semakin menyakitkan saja jika aku terus menggenggamnya. Dengan sadar aku mengakui cinta untuknya, tapi tak begini caranya. Dan aku gamang, cinta yang kupunya kian berubah. Semua berubah karena perlakuannya yang memperlakukanku jauh dari seorang yang disayang. Tak ada lagi damai yang kurasa, rumah tangga ini layaknya kepura-puraan karena tak pernah aku merasa dapat menjadi diri sendiri. Dia membatasi segalanya. Bahkan sekarang saat semua kebusukannya terungkap. 

http://www.wethewomen.org

Semua telah kuputuskan. Aku harus mengakhiri semua ini. Aku berhak untuk bahagia, setidaknya lepas dari rasa takut. Kukumpulkan kembali puing-puing harapan. Sesaat aku merasa menjadi orang paling bodoh, tak tahu harus menyesali atau malah bersyukur. Ya, bersyukur karena sekarang semua terlihat begitu jelas. Dan sekarang takkan kubiarkan waktuku terbuang sia-sia. Terlalu banyak ketertinggalan yang harus kukejar sekarang, bahagia akan selalu menanti. Diriku teramat berharga untuk terus mengendap disini.

Semua harus berakhir disini. Aku layak untuk bahagia.   

[For my lovely sister, ..yong. Semoga bahagia yang kau cari segera kau temukan.  Stop violence against women!!. BDG.032011]

Rabu, 09 Maret 2011

...Covered jazz...

Add caption

Perlahan kerlap kerlip lampu yang tak henti menghujani stage mulai reda. Dian mulai melangkah menjejak tempatnya menumpakah segala kekawatiran. Lampu sorot perlahan menyorotinya hingga menempatkannya tepat di tengah panggung. Sekarang segala perhatian seluruh pengunjung berpusat di dirinya. Sang primadona mulai berpijak pasti dan saat suara merdu itu memenuhi seisi club seolah semua kegitan terhenti, semua terpukau dengan suara yang merobek hati para penggemarnya.

Hentakan lembut lagu-lagu jazz yang ia lantunkan bagai jiwa yang menemukan tubuh utuh dalam diri sang primadona. Rasa gugup yang kerap muncul di awal-awal pertunjukkannya seolah menguap bersama hangat nada-nada yang menyentuh telinga. Tak ada yang lebih nyaman daripada saat kau menemukan dirimu dalam hangat jiwa yang bergejolak seperti asmara. Seperti jatuh cinta lagi, hangatnya selalu membuai hingga ke mimpi.

Club kecil ini tak seramai club lain di Jakarta, namun atmosfir yang tertebar mampu membakar api rindu yang berdiam di jiwa setiap pengunjungnya. Club tua yang tak pernah berusaha untuk menjadi liar seperti club kebanyakan. Bertahan dengan citra sederhananya. Itu sebabnya Dian sangat mencintai tempat ini. Tempatnya menumpahkan segala kekawatiran akan hari esok, akan masa depan buah hatinya yang tak pernah mengenal ayah mereka dan rasa kecewa yang masih menganga akan cintanya yang tak berbalas. Semua tertumpah bersama lantunan suara yang menebar berbagai emosi.

Re duduk manis di bangku bar yang berhujan cahaya redup dengan sebotol bir yang selalu setia menemaninya. Dari tatapan sendu namun hangat itu sangat jelas terlihat, ia menangkap emosi yang di tebar sang primadona.

Club kecil yang dapat melumat siapa saja. Yang sedang jatuh cinta, sedang mabuk kepayang atau pun yang sedang patah hati. Semua menyatu dan Dian meraciknya begitu cerdas. Merangkum satu dalam nyanyiannya. Tak ada lagi yang sedang jatuh cinta atau pun patah hati, semua merasakan hangat yang sama. Sebagian pasangan yang sedang di mabuk kepayang saling mengambil posisi di lantai dansa yang mungil, menjadi satu dalam tari yang penuh kelembutan mencerminkan isi hati mereka yang sedang mabuk akan cinta. Sebagian yang patah hati cukup dengan duduk manis menikmati suasana hatinya, atau sekedar menari lirih bersama sebotol minuman yang menjadi sahabat terbaik saat itu.

Seperti saat pertama Re jatuh cinta dengan tempat ini, surga kecil para penikmat cinta. Saat yang juga membuatnya begitu yakin akan perasaannya dengan sang primadona. Ia tak pernah perduli dengan spekulasi halus yang terjadi di kalangan para sinis sang primadona. Katanya Dian itu perek. Anaknya lahir tanpa ayah. Perempuan pake-an. Re sungguh tak pernah perduli. Masih terbayang jelas di ingatannya kejadian yang menyebabkannya jatuh hati dengan sang primadona. Saat itu Re yang sedang patah hati entah mengapa terdampar di club mungil itu. Seperti pengunjung patah hati kebanyakan, tak ada lagi yang lebih tepat untuk diajak berteman selain minuman, lantas Re segera menjadi penghuni Mars – ia mabuk. 

Saat itu tak ada ekspektasi apapun terhadap club mungil dan sang primadonanya, namun hangat itu nyata ia rasakan menyesaki hatinya yang patah. Re tak sadarkan diri hingga club bubar. Sialnya semua isi kantungnya di lucuti pencuri hingga Dian yang saat itu iba melihat keadaannya pun terpaksa merelakan tempat tidurnya untuk Re si pecinta yang patah hati berat. Di sebuah rumah sederhana berdinding batako itu, Re terhenyak dari mabuknya. Samar ia mendengar suara lembut Dian masih mengalun di kamar yang tak jauh dari kamarnya. Dian menyanyi begitu lembut untuk kedua buah hatinya sebagai pengganti dongeng yang selalu ingin ia bacakan saat mengantarkan buah hati tercintanya menyambut mimpi, namun pekerjaannya selalu tak memberi waktu lebih untuk membiarkannya menghabiskan satu dongeng pun. Suara yang begitu memabukkan, seperti mantra kantuk pengundang mimpi. Re kembali tak sadarkan diri hingga pagi menyongsong.

Re terbangun dan sedikit terkejut dengan keadaanya. Saat mata letihnya terbuka ia disambut dengan tatapan lugu dua malaikat kecil Dian. Mungkin mereka berumur 4 dan 5 tahun, usia dimana rasa ingin tahu begitu mengusik.

“Mom, dia bangun...” gumam si sulung yang tak melepas tatapannya dari Re.

“Mom, dia papa bukan??” tanya si bungsu kepada Dian menghampiri mereka.

Dian hanya tersenyum menggeleng dan segera meraih si bungsu. “Kita sarapan yuk...”. Diraihnya tangan si sulung dan langsung menuju dapur tanpa begitu menghiraukan Re. “Baju kamu basah, kamu bisa pakai kaus yang kuletak di samping bantalmu.”

“Oh...” Gumam Re yang masih belum sepenuhnya sadar akan keadaanya. Tepat di tepi bantal tempatnya tidur ia dapati sehelai kaus berwarna putih terlipat rapi. Ia segera memakainya dan menyusul Dian menuju ruang yang terlalu memaksa menjadi dapur. Dapur merangkap ruang keluarga mungkin.

Di meja persegi itu tersaji beberapa menu sarapan yang dibuat langsung oleh sang tuan rumah. Re tak langsung duduk, ia masih terlihat bingung, mencoba mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi semalam hingga sekarang ia terdampar disini.

“Saya Dian, semalam kamu mabuk, dompet dan ponsel kamu di curi orang... jadi aku bawa kesini... Silahkan duduk, sarapannya seadanya...” jelas Dian.

“Oh, terimakasih...” Re tak tahu harus berkata apa lagi, ia baru saja menerima satu kenyataan bahwa dompet bahkan handphone miliknya telah raib bersama maling berkedok anak dugem dan ia hanya mampu mengucap terimakasih. Re lupa bagaimana harusnya berekspresi, ia masih meraba-raba ingatannya.

Di depannya tersaji menu sarapannya pagi ini. Nasi goreng lengkap dengan telur matasapinya yang kuning mengkilau, beberapa potong roti isi dan segelas susu. Ya, mungkin ia membutuhkan asupan energi, setelah semalam perutnya habis di ubek-ubek alkohol. Re segera mengakhiri rasa laparnya. Ia melahap semua yang tersaji untuknya.

Tak banyak pembicaraan terjadi dimeja itu. Re terlalu sibuk dengan suapan-suapan sarapan lezatnya membuat Dian tak kuasa menahan senyum.

“Papa lapar ya mom?” tanya bocah kecil dipangkuan Dian memecah hikmatnya Re dengan mulut yang masih mengulum penuh sarapannya.

Re tak mampu berkata-kata, ia tak ingin semua isi mulutnya berhambur keluar. Melihat tingkah Re, Dian semakin merasa geli, ia tertawa pelan.

“Maaf, ia memanggil setiap laki-laki dewasa yang datang ke rumah ini dengan sebutan Papa..., lanjutkan saja sarapan kamu.” Dian bergumam kepada si kecil, setengah berbisik, “Panggil Om...” dengan senyum yang masih mengembang.

Re segera menelan kulumannya dengan menegak habis segelas susu yang disiapkan Dian. “Maaf, saya Re...” suara Re masih terdengar canggung.

“Okey Re, kamu buat diri kamu nyaman di rumah kecil kami, mereka harus sudah segera pergi sekolah.” Dian segera beranjak memboyong kedua buah hatinya. Tak lama Dian siap berlalu mengantar kedua buah hatinya kedepan pintu dilantai dasar, menanti mini bus yang sesaat kemudian datang menjemput keduanya. Tinggallah mereka berdua di rumah itu.

Re masih belum beranjak dari tempat duduknya. Semua sarapan sudah habis ia lahap yang tertinggal hanya dirinya yang meraba-raba ingatannya.

“Kamu mabuk berat semalam, aku membawa kamu kesini karena pihak club tak ingin kau menginap disana dan aku juga tak tega melihat kau menginap di pelataran. Berita buruknya semua barang di dompet kamu raib, kecuali kunci mobil kamu.” Dian menunjuk tempat dimana ia meletak kunci itu. Diatas meja mungil ditepi tempat tidurnya tadi. Dengan sigap Dian segera kembali ke kerjaannya. Ia memunguti piring kosong yang berserak diatas meja bundar itu dan membawanya ke washtafel untuk segera dicuci.

“Maaf aku jadi merepotkan kamu.” Seru re yang mulai tersadar penuh.

Dian hanya tersenyum sambil membilas piring-piring kotor di washtafel itu. Baginya tak ada yang merepotkan selain menjawab pertanyaan anak-anaknya yang mulai penasaran dengan ayah mereka. Harta Dian satu-satunya adalah kedua putrinya, tak ada yang lain.

“Kamu tinggal sendiri?” Tanya Re yang mencoba sedikit basa basi.

Dian menggeleng, “Bertiga...”, jelasnya sambil menyelesaikan cuciannya.

“Oh ya...” Gumam Re merasa malu mendapati dirinya terlalu kentara berbasa basi.

“Kamu patah hati...” gumam Dian asal.

Sejenak terjadi kekosongan diantara detik mereka, atau hanya Re yang merasa begitu. Perkataan asal Dian tepat mengenai hati Re yang masih remuk redam karena percintaan yang tak berjalan sesuai keinginannya. Sepenggal luka yang masih terasa pilu kembali berdenyut detik itu juga.

“Maaf...?” tanya Re, memastikan kembali perkataan Dian.

Dian hanya tersenyum. “Sudah lupakan saja... Saya hanya iseng...”

“Darimana kamu tahu aku sedang patah hati?” belum sempat Dian menghabiskan perkataannya, Re memotongnya telak.

Dian menghela napasnya, mandapati dirinya yang begitu usil tertangkap basah oleh Re, namun senyumnya tak lantas memudar. “Hanya ada dua karakter pengunjung yang betah berlama-lama di club itu, sedang di landa cinta atau sedang patah hati. Dan menurut saya kamu adalah golongan yang kedua.” Dian menyudahi kerjanya dengan mengelap kedua belah tangannya dengan secarik serbet kucel.

“Bagaimana kamu tahu?” Re semakin penasaran dengan wanita yang baru beberapa menit ia kenal -jauh dari kesan sang penyanyi primadona yang selalu terlihat dingin dan centil di club- begitu membuatnya terpancing rasa ingin tahu yang berlebihan. Efek dari sensasi rasa dimengerti. Bukankah orang-orang yang sedang patah hati tingkat sensitifitasnya sedikit bertambah dan saat kau tepat menyentuh luka dihatinya maka seketika ia merasa kau menemukannya, mengerti akan apa yang ia rasakan. Atau malah sebalikknya, ia akan berontak tak ingin di sepelekan. Dan yang terjadi pada Re adalah rasa dimengerti, ia terlalu lama terabaikan.

“Lupakan saja...” Dian menyesal dengan semua mulut besarnya. Ada sesal yang tergantung disana, luka lama itu tak kunjung sembuh. Ia berlalu menuju kamarnya, dan segera menyiapkan diri untuk rutinitas yang selalu menantinya.

Obrolan mereka terputus. Kedua insan itu saling menikmati luka mereka masing-masing. Luka karena cinta mereka yang ternyata tak sesempurna yang diharapkan.

“Maaf atas obrolan tadi.” Ujar Dian yang telah siap dengan seragam kerjanya. “dan maaf juga, karena aku sudah harus pergi bekerja dan kamu tak boleh berlama-lama disini.”

“Oh...” Re segera beranjak, mengenakan kembali kemeja yang sudah kusut dan berbau itu.

Keduanya meninggalkan flat yang berada di lantai tiga itu. Tak ada lagi percakapan yang terjadi, masing-masing tenggelam dengan perasaan mereka.

“Kita bareng saja...” ajak Re setelah menyetop sebuah taxi yang melintas ditepi pasar.

“Oh, tak perlu... saya naik angkutan umum saja. Lagian kamu harus ngambil mobil kamu dulu kan.” elak Dian.

“Okey, kalau gitu aku duluan... dan sekali lagi terimakasih.” Re berlalu dengan perasaan yang masih berkecamuk. Ia tak hanya telah kehilangan cintanya tapi juga dompet dan ponselnya dan sekarang ditambah lagi dengan hadirnya Dian yang membuat harinya semakin membingungkan.

Hanya sesingkat itu pertemuan mereka namun siapa sangka semua serasa begitu membekas dihati sang pangeran yang patah hati. Hari-hari selanjutnya kekaguman Re bertambah saat melihat Dian penguasa panggung club mengembangkan sayap-sayap penuh warnanya. Lantas Re pun menjadi pengunjung reguler club.

Berawal dari niat ingin membalas budi, Re memberanikan diri untuk menawarkan tumpangan kepada Dian yang -beruntungnya- tak menolak niat baik Re. Sekali, dua kali membuat mereka semakin dekat. Kedekatan yang disambutan Re dengan hadirnya perasaan kagum yang teramat kepada sang primadona club. Re jatuh hati kepada Dian.

*        *        *

http://www.allposters.com/
Diatas panggung itu, Dian mencurahkan semua perasaannya. Ia tak dapat lagi menyembunyikan segalanya disana. Cintanya yang hilang menyisakan luka yang teramat memilukan.

Club ini seperti kotak pandora tempat cinta dan luka menemukan kebersamaannya dalam balutan suasana di level yang sama. Sama-sama menemukan jiwanya di alunan musik jazz yang mengalun penuh emosi. Emosi yang membakar asmara siapa saja yang di mabuk cinta dan emosi siapa saja yang sedang berusaha menikmati perihnya luka karena cinta.

Semua pengunjung club ini adalah pemuja cinta, penjudi cinta yang siap bertaruh dengan hatinya. Siapa kalah, maka terluka. Luka yang akan membawanya kembali kesini. Setidaknya begitu yang Dian rasakan. Ia pernah merasakan kebahagian seperti yang sepasang pengunjung rasakan saat jazz membakar asmara, seolah merekalah asmara itu sendiri. Hingga saat cinta itu hilang, ia kembali terdampar di meja bar bersama segelas besar beer yang berulang kali terisi, berusaha menikmati perihnya bersama alunan jazz, seperti yang dilakukkan Re saat itu.

Namun sekarang semua berubah, Dian memilih menjadi penonton saja. Ia tak ingin lagi bertaruh dalam perjudian perasaan. Baginya sekarang cinta adalah kedua buah hatinya. Tempat segala kebahagiaannya terbit, tempat dia melabuhkan kasih, tak ada lagi yang lebih berarti dari mereka. Mereka adalah alasan Dian tetap terus menjejak di dunia ini, pembakar semangatnya untuk terus bertahan dalam kesendiriannya.

Laki-laki pengecut itu yang mengenalkannya dengan club ini. Bersamanya, Dian pernah merasa menjadi asmara yang siap membakar seisi dunia. Laki-laki yang ia percaya menjadi ayah dari anak-anaknya yang ternyata tak lebih dari sekedar penipu. Laki-laki itu meninggalkannya dengan alasan yang tak jelas dan Dian tak pernah terima akan itu. Ia pernah menghabiskan masa-masa kelabu menangisi kepergian bajingan yang telah meninggalkan benih diperutnya yang semakin membesar. Saat itu, ia sungguh tak siap dengan kehadiran si bungsu tanpa seseorang yang seharusnya menanggungjawabi. Namun jazz tak hanya memberinya ketenangan dikala hatinya ingin meledak tapi juga kekuatan yang akhirnya membuatnya mempertahankan janin si bungsu. Dian pun jatuh cinta dengan jazz.

Ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk membahagiakan kedua anaknya. Ia akan menggadaikan apa saja demi menghidupi kedua buah hatinya. Waktu, keringat bahkan jiwanya. Siang ia menjadi pelayan di sebuah restoran di pusat kota, malam ia menjelma menjadi primadona di club. Saat itu panggung menjadi dunianya dan jazz menjadi jiwanya.

*        *        *

Re menangkap semua emosi yang Dian tebar di club itu, membuatnya semakin mengagumi sosok Dian. Matanya lekat memperhatikan setiap gerak gerik Dian diatas panggung.

Dan ia tak bisa menyembunyikan perasaanya terhadap Dian. Seisi club tahu Re sedang di mabuk cinta dan malang cintanya tak berbalas. Tak sedikit wanita yang datang menghampiri Re yang biasanya selalu duduk sendiri di sudut bar. Namun semua wanita berlalu begitu saja setelah mendapati ketertarikan Re hanya terpusat kepada sang primadona.

Berkali-kali Re melamar cinta Dian, berkali-kali pula Dian menolaknya. Namun sungguh tak ada lagi yang begitu ia inginkan selain Dian, tak satupun. Lantas jadilah ia si pengemis cinta yang tak henti mengharap cinta Dian jatuh untuknya.

Berbagai spekulasi tentang dirinya dan Dian menjadi lumrah diantara pengunjung. Tak jarang sebagian dari mereka mengutuki Dian si munafik, si murahan yang berlagak jual mahal. Tak jarang juga mereka berkata Re si tolol yang terobsesi. Re sungguh tak perduli, ia selalu merasa lebih mengenal siapa sang primadona sebenarnya. Tak ada yang ia sesali selain kepesimisan Dian memandang kesungguhannya.

Re tahu, ada luka disana, di hati Dian. Luka yang dahulu pernah ia rasakan namun luka itu lebih dalam dari yang pernah Re bayangkan. Atau sesungguhnya hanya kepesimisan Dian yang membuatnya semakin parah.

“Masih belum menyerah boss?” tanya seorang bartender ditengah waktu-waktu repotnya melayani para pengunjung sambil menyerahkan segelas penuh beer kepada Re.

“Thanks...” Re hanya tersenyum.

Menyerah. Pernah terpikirkan sebelumnya. Namun rasa kagumnya ke Dian teramat berlebih, diluar dari sosok seorang primadona yang memang layak untuk dikagumi, Dian adalah wanita perkasa, pejuang hidup yang pernah ia kenal. Ia mengagumi Dian sebagai seorang ibu yang berusaha menyanyi di tengah lelap kedua putrinya saat pagi mulai menyongsong sebagai pengganti dongeng yang tak pernah sempat ia bacakan saat mereka menjelang tidur.  Ia selalu berusaha memasakkan sarapan dan bekal untuk kedua putrinya sebelum akhirnya mereka di jemput seorang yang dititipi untuk menjaga dan menjemput mereka dari sekolah. Siang malam memeras keringat untuk kebahagiaannya. Karnanya Dian layak untuk cintanya.

Re betah berlama-lama disana hanya dengan mendengarkan Dian bernyanyi. Sekarang wanita itu tak hanya idola, tatapi juga cinta matinya. Tatapannya begitu hangat saat menatap sosok idolanya gilang gemilang dihujani lampu warna warni. Sang pengemis cinta tak kunjung padam. Perasaan itu terus menyala membara, tak perduli berapa kali Dian menolaknya, tak menghiraikan seberapa keras Dian menghempasnya. Yang ia lakukan hanya memperjuangkan cintanya, kebahagiaannya. Dan ia tahu yang Dian butuhkan hanya waktu.

*        *        *
...to be continue...

[BDG.00:21.09032011]

Rabu, 09 Februari 2011

...aku, sepi dan ocha...


Lonely days Copyright All rights reserved by OverLinG

Hari ini sungguh terasa hambar. Hampir tak ada yang membuatku bersemangat barang sedikit. Demikian pula cuaca hari ini. Gerimis yang turun membuat waktuku sedingin batu es yang mengambang diatas segelas air soda, menunggu perlahan mencair di waktu makan siangku. Sungguh pilihan menu yang tak tepat, hanya menambah dingin suasana saja.
Kukelilingi plaza terdekat yang dapat ku capai dengan berjalan. Sengaja, dengan begitu kuharap dapat sedikit menghabiskan waktu yang terasa sangat panjang dan membosankan. Langkah demi langkah kutepaki serasa hampa sehampa langkah di treadmill dengan bonus berkurangnya lemak ditubuh. Kukunjungi beberapa gerai dengan tujuan yang sama, hanya sekedar window shopping, aku kehilangan minat berbelanjaku. 

Saat ini waktu memilih bermusuhan denganku, dia seolah berwujud dihadapanku, seperti uluran-uluran tali yang tak habisnya ku telusuri, bayangkan betapa monotonnya dan membosankannya pekerjaan seperti itu - merunut tali super panjang dami menemukan ujungnya yang sayangnya tak ada.

Gerimis semakin tak dapat ditolerir, rintiknya semakin girang berjatuhan dari langit saat baru saja aku akan beranjak dari plaza sumpek itu. Dan terdamparlah aku bersama puluhan pengunjung lain yang menumpuk di mulut plaza menunggu hujan reda. Sekarang aku adalah bagian dari orang-orang yang selalu menjadi kejahilan pikiranku. Tentang hal yang mereka kenakan, tentang gaya yang kadang membuatku cekikikan, tentang cara mereka berbicara, tentang cara mereka berjalan, manusia-manusia sosial konsumtif. Tak baik memang berpikiran seperti itu, karena sesungguhnya diriku pun jauh dari kata sempurna, namun aku selalu tergoda  untuk melakukannya. Seperti melihat acara lifestyle faporit di Discovery Channel atau National Graphic. Namun kini aku merasa terjebak dalam acara yang mulai terasa konyol.

Gerimis pun mereda, perlahan kerumunan itu mulai berkurang. Satu persatu pergi, menyisakanaku yang masih berdiri seolah menanti. Dan saat gerimis itu benar-benar mereda aku malah berharap ia datang kembali. Dengan begitu setidaknya aku punya alasan untuk tetap berdiri disini. Kupandangi langit, mencari pelangi diantara senja yang keemasan. Namun dasar nasib kurang beruntung, aku tak menemukannya. 

Para pedangang yang menjajakan berbagai barang dagangannya mulai membuka gerai kaki lima mereka tepat di depan halaman plaza. Mulai dari perlengkapan anak muda jika ingin tetap diakui ke-gaulannya hingga hewan-hewan peliharaan yang unik atau malah aneh. Yang unik dan aneh justru menarik perhatianku. Aku beranjak dari temapatku yang hampir membatu menyusuri pelataran kaki lima. Anak-anak kucing berhidung pesek dan berbulu kumal itu mengeong saling bercanda, membuat beberapa pengunjung menggeram aneh tanda ia begitu menyukai tingkah si anak kucing. Anak-anak anjing yang lebih kalem saling berkerumun saling menghangatkan, dari matanya yang meminta perhatian terpantul wajahku. Kasihan, gumamku dalam hati kepada anak-anak anjing itu atau kepada bayangan yang terpantul di mata mereka. Selebihnya adalah hewan yang terlalu dipaksa menjadi peliharaan. Hamster, tikus, cicak warna-warni, kadal, ular, burung hantu, tupai, tokek dan biawak dengan ukuran mini, ya, biawak. Aku bergidik geli, membayangkan seekor biawak berkeliaran bebas di kamarku, aku pun segera berlalu. 

"Home sweet home." kata yang kuharap dapat meluncur lugas sepenuh hati dari mulutku, faktanya tak demikian. Kamar 4 x 3 bercat hijau lumut ini terasa pengap, namun keadaan memaksaku untuk mengakrabinya. "Home sweet home." bisikku frustasi.

Kuletakkan sembarang ransel hitam yang hampir seharian bergelayut di pundakku dan beberapa paper bag berisi tea set yang tadi kubeli. Ku raih novel yang terletak di rak yang disesaki tumpukan-tumpukan baju. Tak ada yang pilihan lain yang dapat kupilih untuk kukerjakan. Eat, Pray, love karya Elizabeth  Gilbert tak kehilangan pesonanya untukku. Ini bagai oase lain yang siap menampung bosanmu dengan cerita yang menginspirasi. Baru dua halaman mood-ku kembali anjlok. Aku kehilangan minat baca.

Tak banyak yang dapat kulakukkan, termasuk kegiatan yang selalu kulakukan di saat-saat membosankan seperti ini - merokok - aku berusaha sekuatnya untuk tak menghisapnya barang sebatang. Hari ini baru saja ku ikrarkan untuk stop buat rokok, terlalu banyak omongan-omongan mengarah kepadaku tentang kebiasaanku yang mereka anggap jelek. Andai mereka tau betapa nikmatnya hisapan rokok. Tapi tak mungkin kulanggar, aku terlanjur sesumbar di akun facebook, sekarang semua orang tahu dan terlalu terkesan cemen untuk melanggarnya hari ini juga.


Dari lantai tiga, tempat kamarku berada terlihat landscape kota Bandung yang berbukit-bukit. Bandung tak sesejuk dahulu, begitu kata mereka tapi malam ini kurasa udara begitu menusuk membawa sisa-sisa hawa sejuk gerimis tadi sore, memaksaku untuk segera masuk kekamar. Diatas kasur keras, tempatku biasa tenggelam bersama mimpi-mimpi di kota ini aku mencoba menemukan hal yang mungkin dapat sedikit menyenangkan paling tidak menyibukkanku.


Ku putar suara empuk John Legend menyanyikan lagu andalannya "this time"  berulang-ulang, melengkapi suasana malam ini. Lalu mataku tertuju ke paper bag berisi tea set jepang yang kubeli tadi, mengundang minat ku untuk menghampirinya. Kuperhatika, sebuah teko bundar, mungil dan bercorak khas negeri sakura itu dengan beberapa cangkir-cangkir mungilnya yang bercorak seragam, mengkilap memantulkan bayangku di permukaan halus porcelinnya. Tak ada salahnya kucoba, pikirku. Lantas kupanaskan air seketika dan menuangkannya kedalam teko percelin mungil yang sebelumnya kutuang bubuk ocha, teh jepang bonusan dari pembelian tea set ini. Asap putih mengepul di atas teko, warna air menghijau perlahan pertanda teh siap untuk dinikmati. Kutuang penuh perasaan kedalam cangkir mungilnya, mencoba sedikit menikmati tea time-ku yang sepi ini. Kutiup perlahan permukaan cangkir berisi teh sebeumnya kuhirup aroma hangatnya. Sungguh tak pernah sedikitpun ku tahu bagaimana seni menikmati teh sebenarnya, namun sepi memaksaku untuk lebih lihai lagi menyiasati getir yang ia suguhkan. Atau aku hanya berpura-pura menikmatinya saja.

Saat hangatnya kurasa cukup dapat di tolerir oleh lidahku, aku mengecap dan meneguknya perlahan. Pahit, seketika menyergap mulutku. Ku ingat satu kata dalam novel, "...dan sebodoh apa orang yang menuang gula ke dalam ocha, sepercuma orang membuang garam ke dalam laut...", begitu kira-kira. Ya sudahlah, toh dari tadi pahit yang ditawar sunyi telah kukecap. Kembali kutuang ocha kedalam ke empat cangkir-cangkir mungil itu. Cangkir pertama aku bersulang untuk kebijaksanaan yang selalu kupuja. Cangkir kedua adalah cita-cita dan harapan, ketiga adalah cinta dalam hidupku, keempat... aku tak tahu, anggap saja kesehatan, sudah terlalu banyak omongan tentang tubuhku yang terus membengkak. Kuangkat cangkir-cangkir mungil berisi ocha pahitku.Aku bersulang kepada waktu yang seolah berwujud dihadapanku. Cheers!!, kureguk seketika, tak ingin sejuknya suasana merebut hangatnya dariku. Pahitnya sunyi menyengat sekujur mulutku.

Tiba-tiba, disela acara tea time sakralku terdengar handphone-ku berbunyi, pertanda pesan singkat diterima.

"Dear... Bulan depan kami kesana!", begitu bunyi pesan itu. Segaris senyum terbit di wajahku.

Suara empuk John Legend mengalun merambati udara malam, terus, berulang-ulang...         

Selasa, 25 Januari 2011

Ayah baru untuk Tono

Photo: Grab from blog http://ronidream.blogspot.com

Hari ini Tono tak terlihat semangat seperti biasanya. Pikirannya di bebani oleh omongan-omongan teman dan tetangga yang mengatakan ibunya lagi ngebet cari ayah baru untuknya dan adik kecilnya. Tono tak ingin percaya dengan semua omongan-omongan itu. Bisik-bisik yang tak biasa, karena biasa dia hanya mendengar obrolan tentang kemiskinan dan nasib malang keluarga meraka saja, tapi yang satu ini sudah terdengar terlalu, sungguh bukan fakta dan itu sangat mengusiknya.

Bagi Tono ibu adalah sumber semangatnya selain Tini kecil, adiknya. Ibu adalah sosok yang sangat Tono kagumi dan hormati. Dia mungkin bukan seorang wanita pintar, dia hanya seorang wanita penjual kopi keliling yang sayang terhadap anak-anaknya. Wanita tangguh yang tak pernah menyerah dengan keterbatasannya sebagai seorang orangtua tunggal yang begitu memimpikan anak-anaknya agar dapat mengenyam pendidikan dan memiliki kehidupan yang lebih cerah lagi. Dengan segala keterbatasannya, dia tak pernah redup demi kedua buah hatinya. Bersama Tono yang terpaksa menjadi seorang pemulung, wanita yang selalu Tono panggil "tercinta" itu mati-matian mengumpulkan uang untuk dapat menyekolahkan Tini kecil, adik Tono.

Kerikil-kerikil kecil jalanan kota serasa menjengkelkan bagi Tono. Kaki kecilnya nyeri tertusuk dan menahan panas. Sandal karet tipis yang selalu menemaninya mengais rejeki di jalanan kota sudah tak dapat diandalkan lagi. Demikian dengan omongan-omongan tak sedap tentang ibunya, bagai kerikil dihatinya membuat suasana panas jalanan kota seolah menyusup di hatinya. Tono menghela napas, matanya kembali awas menyusuri jalan, mencari benda-benda yang mungkin dapat ia jual. 

*    *    *
Malam ini di meja makan tersaji makanan yang tidak terlalu biasa hadir di meja makan mereka. Ibu, Tono dan Tini duduk mengelilingi meja makan butut yang terlihat begitu kontras dengan  makanan yang tersaji diatasnya. Satu kotak ayam bakar yang terlihat kecoklatan dan mengkilap, begitu lezat. Dimata Tini terpantul warna kecoklatan mengkilap itu, tak demikian dengan Tono, matanya masih bertanya-tanya, mencari-cari pembenaran apa yang menghadirkan ayam bakar lezat itu di atas meja butut mereka. Namun yang lebih mengganggunya adalah obrolan-obrolan teman dan tetangganya yang terus mengusik pikirannya, ia kehilangan selera karenanya.

"Asik!! Hari ini kita makan ayam bakar!!" Teriak Tini girang sambil mengeluarkan gumaman-gumaman lirik lagu yang selalu ia nyanyikan bila senang. Ibu tersenyum lebar merasa kejutan yang ia buat bekerja sesuai harapan. Dengan segera ia menuangkan sendokan nasi kepiring kaleng masing-masing. 

"Nasinya juga wangi!!" Teriak Tini lagi yang semakin tak dapat menahan rasa girang. Dan saat ibu menyodorkan sepiring nasi wangi lengkap dengan lauk lezatnya ke arah Tono, ibu mendapati kegundahan yang Tono rasa. 

"Kenapa Ton? Kamu sakit?" Tanya ibu kepada putra kesayangannya itu, namun ibu hanya mendapati kebisuan dari Tono. "Cerita ke ibu..." Bujuk ibu.

"Kata teman-teman ibu sedang cari ayah baru untuk kita ya?" Ujar Tono penuh kehati-hatian, ia tak mau ibu terluka dengan pertanyaannya.

Ibu terlihat begitu terkejut namun ia tak ingin merusak kesenangan di acara makan malam istimewa yang ia buat. "Kata siapa Ton?" tanya ibu penuh perhatian dengan senyum yang menggaris tulus diwajahnya.

Tono hanya diam, ia benar-benar tak ingin ibu semakin terluka. Tono tau, wanita yang teramat ia cintai itu sudah begitu banyak menderita karena omongan-omongan tak bertanggung jawab seperti yang sekarang mengganggu pikirnnya. Ia tak ingin melanjutkan semua obrolan yang tak mengenakkan ini dan lebih memilih percaya kepada keyakinannya akan ibu. 

Ibu menghela napas dan membelai kepala Tono penuh kasih sayang. "Tak usah kau dengarkan omongan mereka Ton. Mereka tak pernah tahu apa yang benar-benar terjadi kepada kita. Mereka hanya orang-orang yang tak bertanggung jawab dengan omongannya. Jangan hiraukan.". Ibu kembali menyodorkan piring berisi santapan istimewa itu kepada Tono dan Tono menerimanya tanpa sepatah katapun. Dipikirnya hanya ada Ibu yang baik dan selalu menyayanginya.

"Sekarang biar Tini yang pimpin doa!" Dari mulut kecil Tini terlantun doa tulus sebelum mereka menyantap makanan yang tersaji diatas piring kaleng mereka. 

Dengan lahap kedua buah hati ibu menyantap makan malam mereka. Namun masih tersisa lauk lezat yang mustahil Tono dan Tini tidak suka. Ibu yang melihat keanehan itu pun bertanya, "Kok ayam panggangnya gak dihabiskan?"

"Untuk besok dan sisa ayam yang masih di kotak boleh untuk lusa!" Jawab Tini lugu. 

Rasa sedih menyesak tertahan di tenggorokan yang tersumbat nasi dan ayam lezat, ibu tersenyum getir dibalas senyum sumringah Tono dan Tini. Beras aking yang teronggok didapur meraka menanti untuk menjadi santap dihari-hari selanjutnya.

*    *    *

Azan subuh berkumandang di tengah lelap penduduk pinggiran rel kereta. Ibu segera membangunkan Tono dan Tini yang masih dibuai mimpi-mimpinya akan dunia. Waktunya shalat berjamaan.

Di ruang sempit yang mereka sebut ruang serbaguna karena merangkup ruang tamu, ruang makan dan ruang ibadah itu mereka membentang sajadah kumal dan bersiap dengan doa-doa yang tak kunjung lelah mereka hatur kepada Sang Maha Penyayang. 

Sesaat Tono melirik kearah Ibu yang bersiap mengenakan mukenahnya. Mukenah ibu sudah tak terlihat putih lagi dan robek, semakin terlihat buruk dari hari ke hari.

"Yuk Ton, kita mulai..." Perintah ibu usai mengenakan perlengkapan ibadahnya. 

Diantara senyap yang menyelimuti, qomat merdu Tono lantunkan, pertanda mereka segera menghadap Sang Pencipta.

*    *    *

Hari ini Tono memulung seperti hari-hari yang selalu ia jalani. Langkah Tono begitu ringan, tak ada yang mengusik pikirannya lagi. Baginya hanya omongan ibu saja yang patut ia percaya, bukan teman atau pun tetangga yang hanya dapat mengunjing apapun tentang keluarganya.

Tak satu kerikilpun membuat kesal, langkahnya ringan seolah tak menghiraukan panas dan kerikil yang kerap mengganggunya. Demikian juga dengan sandal tipis nan setia. Siang ini sandal butut ini melangkah penuh angkuh. 
Peria kecil itu dengan semangat menjalani nasibnya. Tak ada yang perlu ia khawatirkan. Baginya Ibu dan Tini adalah harta berharga yang patut ia syukuri meski tanpa kehadiran ayah sekali pun. Sosok yang Tono kenal jauh dari sosok seorang pelindung keluarga, melainkan sebaliknya. Sosok ayah baginya adalah seorang algojo yang selalu menggunakan otoritas status suami untuk bertindak sesuka hati di dalam keluarga. Setidaknya itu yang ia alami. Dengan matanya sendiri ia menyaksikan ayahnya memukuli ibunya hingga babak belur. Dengan napas bau minuman keras itu, ayah kerap memaki-maki dan meludah ibu hanya karena masalah sepele. Ayah adalah raja merangkap algojo dan Tono membencinya sepenuh hati.

Ayah pergi se enaknya, setelah menghajar ibu habis-habisan di depan para tetangga. Masih dapat terbayang jelas kejadian-kejadian yang membuat Tono begitu membenci ayahnya. Puncaknya adalah suatu malam yang beranjak pagi ayah yang mereka tunggu-tunggu pulang setelah hampir dua bulan menghilang dengan keadaan yang biasa, mabuk dituba minuman keras murahan. Ibu yang baru mendapati diri nya hamil Tini menyambut ayah dengan suka cita. Dengan harapan ayah akan merubah kebiasaan buruknya dengan kehadiran janin Tini di rahim ibu, ibu pun memberitahukan kabar gembira itu kepada ayah. Entah apa yang terjadi setelah beberapa menit mereka berbicara, Tono di kejutkan dengan teriakkan ibu yang menggambarkan sakit yang teramat. Tono segera tersadar dari kantuknya dan mencari tahu apa gerangan yang terjadi dan betapa terkejutnya Tono saat mendapati ibu tersungkur, menagis menahan tangis setelah menerima pukulan dari ayah yang masih belum begitu sadar dari mabuknya. Ibu meringkuk kesakitan sambil melindungi perutnya. Dengan segenap kemampuannya, Tono mencoba untuk melerai tindakan ayah yang semakin tak terkontrol, seolah kesurupan setan. Ayah benar-benar silap mata, ia melepaskan sabuk yang melilit pinggangnya dan memecutnya ketubuh ibu. Tono sungguh tak dapat bertindak apa-apa selain menangis. Kemudian Tono berlari keluar, mencari pertolongan.

"Katakan padaku!! Siapa laki-laki itu, jalang?!" Bentak ayah penuh kebencian tanpa berhenti memecutkan sabuk ke tubuh ibu.

"Ini anakmu mas! Anakmu!!" Ratap ibu menahan sakit yang teramat. Bukan hanya ditubuhnya tapi juga di hatinya yang mendapati kenyataan bahwa suami yang termat dicintanya tidak mengakui janin yang dikandungnya. 

Beberapa orang tetngga mulai berdatangan dan memenuhi halaman rumah. Tono berharap mereka dapat segera melerai pertengkaran orang tua nya, namun kehadiran mereka tak sesuai harapan Tono. 

Kemudian ayah menyeret ibu ke halaman depan rumah. Tono yang saat itu tak dapat melakukan apa-apa hanya dapat berteriak-teriak histeris dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya. Di depan para tetangga yang hanya dapat berdiri kaku memandangi ibu dianiaya tanpa berbuat apapun, ayah meraih gunting rambut dan segera menggundulu rambut ibu dengan brutal. Saat itu hanya ada sesosok iblis yang sedang menganiaya ibu di mata Tono kecil.  Rasa benci dihati semakin menjadi-jadi. Setelah puas menggunduli ibu, Peria iblis itu berujar lantang :
"Di hadapan kalian semua kuceraikan wanita jalang pezina ini!" Tanpa sedikitpun rasa kasihan, kemudian peria yang Tono sebut ayah itu meninggalkan ibu dan Tono dalam duka dan dendam yang mendalam. Itu terakhir kalinya Tono memanggil peria itu dengan sebutan ayah. Sebutan yang demikian tak layak untuk seseorang yang bersifat seperti iblis.     

Dan kini, dimasa yang seharusnya ia habiskan dengan bermain kini habis dengan membangun impiannya untuk dapat menyekolahkan Tini, impian yang juga kerap mengisi waktu-waktu lelap ibu teramat yang ia cintai.

Matahari mulai turun beberapa derajad dari puncaknya, langkah Tono pun mulai melambat. Lelah mulai menggelayuti tubuh kurusnya. Ia memutuskan untuk istirahat di tempat ia biasa kumpul bersama dengan teman-teman seprofesinya. 

Baru saja Tono merasakan sedikit tenang tiba-tiba seorang teman yang tepat duduk disampingnya bertanya. 

"Ton, ibu lo lagi cari ayah baru buat lo dan adik lo ya?" Tanya seorang teman Tono dengan suara tawa yang tertahan. Tono hanya diam, tak ingin terpancing dengan olokan teman-temannya< ia mencoba untuk tetap menikmati sepotong roti coklat, menu makannya siang ini. Disela kunyahan roti coklatnya terdengar cekikikkan teman-temannya.  Dan tono tetap mengunyah makan siangnya meski terasa berat untuk menelannya.

"Ton, adik kamu Tini itu anak haram ya?" Tanya seorang teman diantara gerombolan usil yang tak henti-hentinya menggoda Tono. Namun pertanyaan satu ini sudah tak dapat Tono tolerir lagi. Seolah puncak emosinya sudah diujung ubun-ubun dan akhirnya terlepas di kepalan tinju yang segera mendarat di wajah sang teman bermulut besar. Segera tono menjadi keroyokan gerombolan usil tersebut. Tanapa gentar, Tono menghajar semuanya. Tak ada lagi yang dapat menghentikannya, ia sudah cukup bersabar.

*    *    *

Dibawah sinar keemasan mentari yang hampir tertelan malam, Tono berjalan sempoyongan menuju rumahnya. Ada kekesalan yang teramat tergambar diwajahnya. Dari kejauhan, Tini berlari menghampiri Tono. 
"Kakak kenapa? Kok...??" Tanya Tini yang terkejut melihat sang kakak yang babak belur. Tono hanya menggeleng pelan. Segaris  senyum sungguh ia ingin suguhkan  demi menenangkan adik tersayangnya, namun begitu terasa berat. Rasa kesal masih menguasainya. 
Bagi Tono dan Ibu, Tini adalah kesayangan. Tempat mereka mencurahkan sayang. Tono sungguh tak percaya dengan semua omongan-omongan ayah, teman dan tetangga-tetangganya tentang Tini.

Tono segera meraih tangan Tini. Mereka berjalan beriringan menuju rumah kotak mereka. 

"Kak, dirumah ada om Badri." celetuk Tini.

"Om Badri??" Tanya Tono bingung. Ia sama sekali tak pernah merasa mengenal nama itu. 

"Om yang beliin kita ayah bakar itu kemarin." Jawab Tini lugu.

Tono terkejut. Ia tak pernah tahu menahu asal mula makan malam istimewa kemarin. Entah mengapa jantung Tono berdetak semakin kencang. Ia pun mempercepat langkahnya menuju rumah. Semakin Tono mendekati rumah, jantungnya semakin berdetak tak tentu. Perasaan tak enak merasukinya. Dan saat mata Tono menyaksikan langsung ibu sedang berbicara asik dengan seorang peria bernama Badri itu, semakin terngiang ditelinganya omongan-omongan jelek yang teman-temannya katakan. Tak biasanya ibu terlihat begitu, wajah dan gerak tubuhnya saat berbicara tak seperti biasa, Tono merasakannya. 


"Ton, kamu sudah pulang..." Sapa ibu yang sedikit terkejut dengan kehadiran Tono. Dan ibu lebih terkejut lagi saat melihat Tono yang babak belur. "Kamu kenapa Ton?? Wajah kamu..." Ibu segera menghampiri Tono dan saat ibu ingin meraihnya, Tono menepis tangan ibu.


"Jadi benar yang dikatakan teman-teman? Laki-laki itu pengganti ayah bu? Kuhajar mereka  karena mereka bilang Tini adalah anak haram, benarkah itu bu?" Tono bertanya penuh emosi yang tak tertahan lagi, tangis yang tertahan dimatanya pun menetes.


Ibu terkejut, tak siap dengan pertanyaan Tono. "Ton..." ibu mencoba meraih Tono lagi namun Tono mundur, ia meraih tangan Tini dan berlari menjauh dari Ibu. Tini hanya diam tak tahu menahu apa yang terjadi.


Perlahan Hujan turun bersama dengan tangis ibu yang tak lagi dihiraukan Tono.


"Ton!! Kembali! Maafkan ibu!" Teriak ibu tertelan derasnya hujan menyisakan sesal yang tak terhapuskan.

*    *    *

"Kak kita mau kemana? Tini anak haram ya kak?" Tanya Tini lugu tanpa mengerti apa yang ia tanyakan. "Ibu jahat ya kak?" Pertanyaan Tini hanya membuat Tono semakin sedih, tak terima dengan kenyataan yang telah ia lihat. 

Jauh dalam hati kecilnya, Tono tak ingin melakukan ini., ia tak ingin meninggalkan ibu, namun emosi membutakan matanya, ia hanya tak ingin terlihat cngeng didepan peria sial yang akan menggantikan ayahnya. Setidaknya itu yang ada di pikirannya saat ini. Tono hanya tak ingin kejadian dahulu terulang lagi. 
Tono mendekap adik kesayangannya, mencoba menenangkanya sekaligus menenangkan dirinya sendiri. Tono merasa begitu gagal. Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk jadi pelindung, pengganti ayah bagi ibu dan Tini, namun Tono sadar, ia tak dapat menggantikannya. ia telah mengorbankan pendidikannya, memulung demi impian ibu yang juga kini menjadi impiannya, melihat Tini bersekolah layaknya anak-anak kebanyakan. 

Tono menatap nanar rintik-rintik hujan yang turun semakin deras saja. Pikirannya tertinggal bersama ibu yang ia tinggalkan dalam kesedihan. Sungguh tak pernah terpikir akan terjadi seperti ini. Tak pernah terlintas sedikitpun niat untuk meninggalkan ibu yang teramat ia sayangi. Dari dalam karung ia meraih sebuah bungkusan yang dibungkus rapis dengan koran kemarin. Tono meremasnya penuh sesal bersama dengan tangisnya yang semakin tak terbendung.  Disela sedu tangisnya ia mendengar Tini berujar setengah merintih. 

"Kak... Tini mau ibu..." 

Dari gelapnya malam dan hujan seorang wanita terseok-seok, memanggil-manggil nama mereka. "Tono...!! Tini...!!"

Tini yang mendengar ibu langsung berlari menghambur kedalam peluk ibu. Kemudian ibu menghampiri Tono yang hanya dapat menangis sedu sambil memeluk buangkusan yang sejak tadi ia remas.

"Ton maafkan ibu..." bujuk ibu. "Ibu tak bisa hidup tanpa kalian. Hanya kalian harta ibu yang paling berharga, tak ada lagi. Maafkan ibu. Ibu hanya ingin kalian berdua hidup selayaknya anak seumuran kalian. Bersekolah bukannya kerja, memulung. Maafkan ibu, karena tak ada yang dapat ibu lakukan untuk kalian..." ibu tersedu penuh haru.

Lama Tono hanya tertegun, terisak tangis yang tak kunjung reda. 
"Kak... Kesini..." Panggil Tini. "Tubuh ibu basah, ibu pasti kediginan!" 

Mendengar ucapan lugu Tini, Tono pun tak dapat menahan perasaannya. Ia segera menghambur memeluk ibu erat. "Maafkan Tono bu... Tono sayang ibu..." Tak ingin melanjutkan rasa sedihnya lebih lama lagi, Tono pun segera menyerahkan bungkusan yang dari tadi ia pegang erat kepada ibu. 

"Apa ini Ton?" Tanya ibu sambil membuka bungkusan yang setengah basah karena gerimis. Terkujutnya ibu saat mendapati isi dari bungkusan itu. Disaat hujan mulai reda tangis ibu kembali menggaris hangat namun kali ini beda, rasa bangga memenuhi hati ibu.

"Punya ibu sudah jelek, jadi Tono beli yang baru untuk ibu." Diatas mukenah putih pemberian Tono tangis ibu terhapus. 

Diantara rintik hujan yang membasahi malam, ketiga anak manusia itu saling mengucap syukur karena cinta yang mereka miliki begitu berharga. 

[Jan.BDG.10:49.11012011]